MAKALAH
TAFSIR
TARBAWIY
“MAKNA
KEBERADAAN ALAM DUNIA”
Dosen
Pengampu : DRS. H. Muh.
Idris, M.Pd.I
Oleh
Kelompok
V
Nama
|
NIM
|
M. Rafli Ardiansyah
|
160103080
|
Kamila Ismi
|
160103065
|
Kelas
2C Tadris Matematika
FAKULTAS
ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI MATARAM (IAIN).
Tahun
Akademik 2017/2018
KATA
PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah SWT, berkat rahmat dan
hidayah-Nya kita bisa menyelesai makalah ini, karena tanpat rahmat ataupun
hidayah dari-Nya kita tidak akan mampu menyelesai makalah ini. Kemudian
shalawat serta salam kita curahkan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad
SAW. Demikian pula kita curahkan juga salam kepada keluarganya, para shahabat,
para tabi’in dan para pngikutnya sampai hari kiamat terutama yang meriwayatkan
dan mengajarkan sunnah-Nya.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas Tafsir
Tarbawiy.z Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat dan menambah
wawasan bagi kita semua. Penulis membuat makalah ini dari kumpulan buku.
Mataram,
11 maret 2017
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
BAB II : PEMBAHASAN
A. Tafsir Surah Al-A’raaf Ayat
54
B. Tafsir Surah Al-Baqarah
Ayat 29
BAB III : PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an
merupakan sumber segala ilmu. Al-Qur’an menyebutkan tentang kejadian alam
semesta dan berbagai proses kealaman lainnya, tentang penciptaan manusia,
termasuk manusia yang didorong hasrat ingin tahunya dan dipacu akalnya untuk
menyelidiki segala apa yang ada disekitarnya seperti keingintahuan tentang
rahasia alam semesta.
Alam semesta merupakan sebuah bukti kebesaran Tuhan, karena penciptaan alan semesta dari ketiadaan memerlukan adanya Sang Pencipta Yang Maha Kuasa. Tuhan telah menciptakan alam semesta ini dengan segala isinya untuk manusia dan telah menyatakan tentang penciptaan alam semesta dalam ayat-ayat Nya. Meskipun demikian al-Qur’an bukan buku kosmlogi atau biologi, sebab ia hanya menyatakan bagian-bagian yang sangat penting saja dari ilmu-ilmu yang dimaksud.
Keinginantahuan manusia tentang alam semesta tidak hanya membaca al-Qur’an saja, akan tetapi juga melakukan perintah Tuhan. Sehingga ia dapat menemukan kebenaran yang dapat dipergunakan dalam pemahaman serta penafsiran al-Qur’an, berdasarkan surat Yunus ayat101. Oleh karena itu tidak dapat diragukan lagi bahwa penciptaan alam semesta bukanlah produk dari hasil pemikiran manusia, akan tetapi
produk dari hasil Tuhan.
Alam semesta merupakan sebuah bukti kebesaran Tuhan, karena penciptaan alan semesta dari ketiadaan memerlukan adanya Sang Pencipta Yang Maha Kuasa. Tuhan telah menciptakan alam semesta ini dengan segala isinya untuk manusia dan telah menyatakan tentang penciptaan alam semesta dalam ayat-ayat Nya. Meskipun demikian al-Qur’an bukan buku kosmlogi atau biologi, sebab ia hanya menyatakan bagian-bagian yang sangat penting saja dari ilmu-ilmu yang dimaksud.
Keinginantahuan manusia tentang alam semesta tidak hanya membaca al-Qur’an saja, akan tetapi juga melakukan perintah Tuhan. Sehingga ia dapat menemukan kebenaran yang dapat dipergunakan dalam pemahaman serta penafsiran al-Qur’an, berdasarkan surat Yunus ayat101. Oleh karena itu tidak dapat diragukan lagi bahwa penciptaan alam semesta bukanlah produk dari hasil pemikiran manusia, akan tetapi
produk dari hasil Tuhan.
B. Rumusan Masalah
Apakah dalam
Al-Qur’an ada firman Allah mengenai keberadaan dunia?
C. Tujuan
1. Untuk
mengetahui bagaimana tafsirnya surah Al-A’raaf, khususnya ayat yang 54.
2. Untuk
mengetahu tafsir surah Al-Baqarah, khususnya ayat 29.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Tafsir Surat Al-A’raaf Ayat 54
Lafal :
إنَّ ربَّكم الله الذى جلق
السَّموت والأرض في ستِّة أيَّامٍ ثمَّ أسْتوى على العرش يغْشى الّيل النَّهار
يطلبه، حثِيثًا والشَّمس والقمر والنُّجُو م مسخًّر تٍابأمره، ألا له ألخلقُ
وألأمر، تبارك الله ربُّ العلمين (54)
Artinya :
“Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah yang telah
menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, lalu dia bersemayam diatas ‘Arsy.
Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan matahari,
bulan serta bintang-bintang tunduk kepada perintahn-Nya. Ingatlah, mencipta dan
memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah Tuhan semesta alam.
Maksudnya :
Dalam ayat ini Allah menunjukkan kepada
semuat umat manusia, tentang sifat-sifat yang sesungguhnya. Yaitu Allah Ta’ala
memberitahukan bahwa Dia adalah pencipta alam semesta, yang mana alam semesta
itu adalah alam samawi dan ardhi beserta segala isinya, dalam jangka waktu enam
hari. Hal itu bukan hanya diberitahukan dalam satu ayat saja dalam Al-Qur’an,
tetapi ada banyak. Enam hari itu adalah hari Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis
dan Jum’at. Pada hari itu semua makhluk diciptakan dan pada hari itu juga Allah
menciptakan Nabi Adam. Para ulamah berikhtilaf mengenai hari-hari itu, apakah
hari yang dimaksudnya itu sesuai dengan hari-hari yang kita rasain sekarang
ini? Namun sesuai dengan pendapatnya Mujahid dan Imam Ahman bin Hanbal,
menyatakan bahwa satu hari didunia sama artinya dengan seribu tahun di akhirat.
Ini juga didukung oleh firman Allah dalam surah Al-Haj, yang artinya :
“sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribuh tahun menurut
perhitungan kamu. Dan pada hari sabtu tidak terjadi penciptaan, sebab ia
merupakan hari ke tujuh. Hari ketujuh juga disebut sebagai sabat yang
artinya itu adalah putus.
Adapun Firma Allah Ta’ala, “kemudian Dian
bersemayam diatas ‘Arsy.” Sehubungan dengan persoalan ini terdapat banyak
sekali pendapat. Ada yang enggan menafsirkannya dan mereka hanya mengatakan
bahwa “hanya Allah SWT. yang mengetahui maknanya.” Imam Malik berusaha
menjelaskan kata استوى yang
bersemayam ke makna majazi yaitu “berkuasa”, dan penggalan ayat ini
menjelaskan bagaimana tentang kekuasaan Allah SWT. dalam mengendalikan alam
raya ini. Dalam ayat ini juga menunjukkan bahwa Allah itu juga tidak ada yang
menyerupainya, ini sesuai dengan firmannya dalam surah Asy-Syura ayat 11, yang
artinya : “tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha
mendengar lagi Maha melihat. Imam Na’im ibnu Hammad Al-Khuza’i (gurunya Imam
Bukhari), ia mengetakan bahwa barang siapa yang menyerupai Allah dengan
makhluknya, kafirlah dia. Barang siapa yang ingkar kepada apa yang disifatkan
oleh Allah terhadap zat-Nya sendiri, sesungguhnya dia telah kafir. Semua apa
yang digambarkan oleh Allah SWT mengenai dirinya, juga apa yang digambarkan
oleh Rasul-Nya bukanlah pengertian dalam arti menyerupainya.
Firman Allah Ta’ala, “Dia menutuupkan
malam kepada siang yang menutupnya dengan cepat. Yakni menghilangkan kegelapan
malam dengan cahaya siang hari, dan menghilangkan cahaya siang dengan gelapnya
malam hari. Masing-masing dari keduanya mengikuti yang lain dengan cepat dan
tidak terlambat. Maka, tidak akan kehilangan waktu sedikitpun sehingga yang
satu menjadi mundur, bahkan apabila ia datang, maka yang itu pergi begitu pula
sebaliknya. Ini diperteng dalam firman-Nya dalam surah yasin ayat 37 – 40.
Dalam ayat 40 Allah berfirma “dan malam pun tidak dapat mendahulukan siang”.
Ini artinya tidak akan terlambat darinya serta tidak akan ketelatan darrinya,
bahkan yang satunya datang sesudah yang lainnya secara langsung tanpa ada jarak
waktu pemisah diantara keduanya.
Karena itulah maka dalam ayat ini
disebutkan dalam firman-Nya, “yang mengikutinya dengan cepat, dan (ciptaannya
pula) matahari, bulan serta bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada
perintahnya. Yakni, semuannya itu berada dibawah dominasi, penaklukan dan
kehendak-Nya. Dengan kata lain, semuanya tunduk dibawah pengaturan-Nya dan
tunduk dibawah kehendak-Nya.
Karena itu Allah berfirman, “ingatlah,
mencipta dan memerintah hanyalah hak Allah. Yakni hanya Dialah yang berhak
menguasai dan mengatur semuanya.
Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam.
Firman-Nya ini sama dengan yang disebutkan dalam surah Al-Furqan ayat 61,
hingga akhir ayat. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku
Al-Musanna, telah menceritakan kepada kami Ishaq, telah menceritakan kepada
kami Hasyim Abu Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah ibnu
Walid, telah menceritakan kepada kami Abdul Gaffar ibnu Abdul Aziz Al-Ansari,
dari Abdul Aziz Asy-Syami, dari ayahnya yang berpredikat sahabat, bahwa
Rasulullah saw. pernah bersabda : “barang siapa yang tidak memuji Allah atas
amal yang dikerjakannya, yaitu amal yang shalih; dan bahkan dia memuji dirinya
sendiri, maka sesungguhnya ia telah ingkar dan amalnya telah diahapus. Dan
abrang siapa yang menduga bahwa Allah telah menjadikan bagi hamba-hamba-Nya
sesuatu dari urusan itu, berarti ia telah ingkar terhadap apa yang diturunkan
oleh Allah kepada para Nabi-Nabi-Nya. Dikatakan demikian karena ada firman
Allah yang mengatakan : “ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak
Allah. Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam.
Di dalam sebuah doa yang ma’sur
dari Abu Darda dan telah diriwayatkan secara marfu’ disebutkan : “Ya
Allah, bagi-Mu semua kekuasaan, dan bagi-Mu semua pujian, dan hanya kepada
engkaulah semua urusan dikembalikan. Saya memohon kepada-Mu semua kebaikan, dan
saya berlindung kepada-Mu dari semua kejahatan.
B.
Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 29
Lafal :
هو الذي خلق لكم ما في الأرض
جميعًا ثمَّ استوى إلى اسَّماءِ فسوَّاهنَّ سبع سماواتٍ وهو بكلِّ شيءٍ عليمٌ (29)
Artinya :
“Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada
dibumi untuk kalian dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya
tujuh langit. Dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.
Maksudnya :
Pada ayat ini sungguh sangatlah benar, bahwa Allah
menjadikan apa-apa yang ada dalam bumi untukmu (hai kaum muslimin), yaitu
seperti barang-barang yang dikeluarkan dari tanah, umpamanay : emas, perak,
batu arang, minyak dan sebagainya. Oleh sebab itu, seharusnya kaum muslimin
khususnya dan rakya Indonesia umumnya berusaha mengeluarkanhasil bumi Indonesia
yang kaya raya, seperti tercantum kemakmuran bersama. Dan Allah menjadikan
tujuh lapis langit, adapun yan g dimaksud dengan tujuh lapis langit adalah
apa-apa yang ada diatas kepala kiat, seperti : awan, bintang-bintang, tempat
peredarannya dan sebagainya.
Setelah Allah menyebutkan bukti dan keberadaan-Nya
kepada makhluk-Nya melalui apa yang mereka saksikan sendiri pada diri mereka,
lalu Dia menyebutkan bukti lain melalui apa yang mereka saksikan, yaitu
penciptaan langit dan bumi. Untuk itu Allah berfirman, “Dialah Allah, yang
menciptakan semua yang ada di bumi untuk kalian, dan dia berkehendak
(menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Makna dari berkehendak
atau bertujuan ke langit itu mengandung pengertian kedua lafadz tersebut, yakni
berkehendak dan bertujuan. Kemudian “Dia Maha Mengetahui segala sesuatu, yakni
pengetahuan-Nya meliputi semua makhluk yang telah Dia ciptakan. Pengertiannya
sama dengan firman-Nya yang lain dalam surah Al-Mulk ayat 14, yang artinya :
“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kalian lahirkan dan
yang kalian rahasiakan?). Rincian penjelasan ayat ini diterangkan dalam surah
Fushshilat ayat 9 – 12.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari uraian
diatas dapat diambil kesimpulan bahwa : Allah telah menciptakan alam semesta
ini dengan segala kebesarannya, yang menguasai alam ini, mengaturnya dengan
perintah-Nya ,mengendalikannya dengan kekuasaan-Nya. Dia menutupkan malam
kepada siang yang mengikutinya dengan cepat dalam putaran yang abadi ini.
Yaitu, putaran malam mengikuti siang dalam peredaran planet ini. Dia
menciptakan matahari, bulan dan bintang, yang semula tunduk kepada
perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pencipta dan Tuhan sekalian alam.
Al-Qur’an telah menghubungkan semua pagelaran alam semesta dan seluruh getaran jiwa kepada akidah tauhid. Ia mengubah setiap kilatan sinar dalam lembaran alam semesta atau dalam batin manusia kepada sebuah dalil atau isyarat. Demikianlah alam semesta beserta segala isinya beralih rupa menjadi tempat pementasan ayat-ayat Allah yang dihiasi dengan keindahan oleh “tangan” kekuasaan dan bekas-bekasnya tampak nyata dalam setiap pagelaran dan pemandangan serta gambaran dan bayang-bayang didalamnya. Sehingga manusia diharuskan percaya dengan adanya alam semesta ini sebagai bukti dari kebesaran Tuhan.
Al-Qur’an telah menghubungkan semua pagelaran alam semesta dan seluruh getaran jiwa kepada akidah tauhid. Ia mengubah setiap kilatan sinar dalam lembaran alam semesta atau dalam batin manusia kepada sebuah dalil atau isyarat. Demikianlah alam semesta beserta segala isinya beralih rupa menjadi tempat pementasan ayat-ayat Allah yang dihiasi dengan keindahan oleh “tangan” kekuasaan dan bekas-bekasnya tampak nyata dalam setiap pagelaran dan pemandangan serta gambaran dan bayang-bayang didalamnya. Sehingga manusia diharuskan percaya dengan adanya alam semesta ini sebagai bukti dari kebesaran Tuhan.
B. Saran
Kami selaku pembuat makalah ini sangat
membutuhkan yang namanya saran, supaya makalah selanjutnya yang kami buat tidak
ada lagi yang namanya kesalaha. Setelah kami mendaptakan saran dari bapak dosen
maupun teman Mahasiswa, kami akan berusa untuk tidak mengukangi kesalahan itu
lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Ar-Rifa’i, Nasib, Muhammad. 1989. Taisirul Al-Aliyyul Qadir li
Ikhtishari Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 2. Riyadh. Maktabah Ma’arifat.
Yusuf, Mahmud. 2004. Tafsir Qur’an Karim, bahasa indonesia. Jakarta.
PT. Hidayah Karya Agung.
Bahreisy, salim dan Bahreisy, Said. 2004. Terjemah Singkat Tafsir Ibnu
Katsir, jilid 3. Surabaya. PT. Bina Ilmu.
Bersumber juga dari internet yang diakses, www.makna keberadaan alam dunia
(diakses pada tangga 11 maret 2017, pada jam 09:30).
Bersumber juga dari Apliaksi di hp. Qur’an tafsir.







0 komentar:
Posting Komentar